Untuk sahabatku Malam...
Malam, didalam gelapmu aku merasakan kedamaian. Setiap butir-butir
cahaya dari rembulan memberikan warna disetiap jalan ku menuju rumah. Aku melewati
setiap jengkal jalan dengan nada-nada sumbang dari deru suara kendaraan yang
mengganggu telinga ku. Seperti serdadu, mereka memberikan jejak-jejak langkah
melalui corong-corong besi dibawahnya. Aku berusaha berkonsentrasi agar aku
bisa melihat dan merasakan kedamaian yang telah kau berikan selama ini. Aku teringat
wahai Malam, aku sering menghabiskan waktu bersamamu, bersama semilir-semilir
angin dari rimbun pepohonan ketika ku lewati barisan pohon di jalan ini. Aku selalu
bahagia karena mereka selalu menyambutku dengan dinginnya hawa mereka sehingga
aku tenang sewaktu aku sendirian dan menjalani segala kepenatan. Ingatkah kau
Malam, kita pernah menghabiskan waktu bersama seseorang yang aku
sayangi? Ya, dia. Aku masih jelas mengingat senyumnya. Tapi kini aku lebih senang melewati gelapnya dirimu sendirian dan merasa bebas. Dari situ aku belajar untuk mengikhlaskan atas apa yang telah aku hilangkan, apa
yang harus aku lepaskan, apa yang harus aku pertahankan, dan apa yang harus aku
perbuat. Terima kasih telah menemani gelap diriku dalam dinginnya sunyi malam
ini Malam...